Sejarah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Bukit Sentul / Sentul City
Kerinduan yang Lahir dari Sebuah Perjalanan
Sejarah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Bukit Sentul berawal dari sebuah momen sederhana, yaitu liburan di kawasan yang dahulu disebut Bukit Sentul. Setelah menikmati suasana kawasan perumahan tersebut, Bapak Leonard August Tilon, yang sering disebut Opa Tilon, menyampaikan kerinduannya kepada istrinya, Ibu Fien Loureta Tilon (Oma Tilon). Ia mengungkapkan bahwa alangkah indahnya jika di kawasan yang luas itu berdiri sebuah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK). Kerinduan itu bukan sekadar keinginan sesaat, melainkan menjadi sebuah panggilan yang membara di dalam hati Opa Tilon untuk menjadikan Bukit Sentul sebagai ladang penginjilan dan tempat memperkenalkan Yesus kepada banyak orang.
Semangat Penginjilan yang Tak Terpadamkan
Semangat Opa Tilon untuk mewujudkan impian tersebut begitu besar, meskipun kondisi fisiknya semakin melemah. Kerinduannya untuk melihat berdirinya gereja di Bukit Sentul tetap hidup hingga akhirnya Tuhan memanggilnya pada tanggal 13 Februari 2003. Namun, kerinduan itu tidak berhenti bersamaan dengan kepergiannya. Api semangat yang telah ditanamkan justru menjadi warisan iman yang kuat. Oma Tilon, yang terdorong oleh kasih dan kesetiaan, bangkit dari kesedihannya dan berkomitmen untuk mewujudkan kerinduan almarhum suaminya.
Awal Persekutuan dari Rumah Sederhana
Oma Tilon kemudian kembali ke kawasan Bukit Sentul dan tinggal cukup lama di sana dengan menyewa sebuah rumah di klaster Taman Udayana II No. 37. Dari tempat sederhana inilah langkah awal pelayanan dimulai. Bersama keponakannya, Oma Tilon memulai perbaktian setiap hari Sabat di rumah kontrakan tersebut. Pada awalnya, kegiatan ini didukung oleh Jemaat Kelapa Gading sebagai cabang Sekolah Sabat mereka. Namun karena faktor jarak dan jumlah jemaat yang terbatas, akhirnya diarahkan untuk bergabung dengan Jemaat Bogor yang pada saat itu digembalakan oleh Pdt. Sucianto. Seiring waktu, umat Tuhan yang ada di kawasan Bukit Sentul mulai dikumpulkan dan berbakti bersama secara rutin. Dari bulan Maret hingga Desember 2003, ibadah berlangsung di rumah Oma Tilon, hingga akhirnya pada awal Januari 2004 berpindah ke Bukit Golf Hijau, Jalan Gunung Salak No. 39 (kediaman keluarga T.L. Yousuf), karena tempat sebelumnya sudah tidak lagi menampung pertumbuhan jemaat.
Terbentuknya Jemaat dan Penyediaan Tempat Ibadah
Pertumbuhan jumlah umat yang semakin bertambah menumbuhkan kerinduan yang lebih besar, yaitu menjadi sebuah jemaat yang resmi. Kerinduan ini akhirnya terwujud pada tanggal 21 Mei 2006, ketika persekutuan ini secara resmi berdiri sebagai jemaat. Dalam penyertaan Tuhan, keluarga T.L. Yousuf, melalui Ibu Meity Yousuf, menghibahkan satu unit ruko di Plaza Amsterdam Blok A/27 sebagai tempat perbaktian bagi Jemaat Bukit Sentul. Dengan demikian, perjalanan yang dimulai dari sebuah kerinduan, dilanjutkan dengan iman dan kesetiaan, akhirnya menghasilkan sebuah gereja yang menjadi tempat umat Tuhan bersekutu dan melayani. Demikianlah sejarah terbentuknya GMAHK Bukit Sentul—sebuah bukti bahwa Tuhan bekerja melalui hati yang rindu dan setia.
